Lgi Bingung
Lagi Kosong Bos

Info Post


Kota Tegal sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Namanya melekat pada ribuan warung Tegal yang tersebar di hampir seluruh kota besar Indonesia. Kebanyakan warung Tegal (warteg) menyediakan hidangan sehari-hari yang sederhana, murah, dan bergizi. Tegal terkenal dengan julukan Negeri Jepang yang terselip di Jawa Tengah. Julukan itu pantas karena di sana banyak berkembang industri mesin. Katanya, orang Tegal mampu membuat mesin apa saja.
Di samping itu, Tegal juga terkenal dengan logat atau dialeknya. Logat Tegal telah dimanfaatkan oleh para pelawak terkenal sehingga tercipta humor atau lelucon yang memikat perhatian. Pendek kata, Tegal merupakan sebuah kota penting di tengah pembangunan masyarakat dan bangsa Indonesia.
Pada ratusan tahun yang silam, kota Tegal hanya berupa desa atau pemukiman yang kecil. Letaknya di muara Sungai Gung yang dihuni para petani dan nelayan. Jumlah penduduknya hanya ratusan orang dengan rumah yang masih sederhana. Kebanyakan terbuat dari kayu, dinding bambu, dan atap rumbia (ilalang). Belum ada sekolah seperti zaman sekarang. Pendidikan langsung di tengah kehidupan sehari-hari atau lewat pesantren kecil-kecilan.
Desa tersebut berada di tengah hamparan ladang dan sawah yang luas. Kebanyakan lahan masih berupa tegal (=ladang) sebab belum ada irigasi atau pegairan. Penduduk masih tergantung pada air sungai dan air hujan. Kata Jawa tegal atau tegalan berarti ladang yang biasanya ditanami palawija (ubi, kacang, jagung, dan sejenisnya). Jadi, berbeda dengan sawah yang bisasanya ditanami padi. Itulah sebabnya desa kecil di tengah ladang dan di muara sungai itu disebut Tetegal, kemudian menjadi nama tetap Tegal.
Asal mula Tegal tidak dapat dipisahkan dari tokoh Ki Gede Sebayu yang hidup di sekitar tahun 1580. Konon, dia berasal dari Kerajaan Pajang (sekarang dekat kora Surakarta). Karena Pajang dikalahkan oleh Mataram, banyak pemuda priayi dan bangsawan yang pergi mengembara untuk mencari kehidupan baru. Mereka berpikir, Tanah Jawa masih sangat luas untuk membangun hari depan yang lebih baik. Ki Gede Sebayu termasuk priayi muda PAjang yang mengembara ke barat.
Ki Gede Sebayu berangkat bersama seorang kerabatnya yang bernama Raden Sida Wini. Mereka telah berani menembus hutan belukar yang ganas. Mungkin harus berhadapan dengan para perampok atau begal yang nakal-nakal. Jadi, bekal mereka bukan hanya uang, tetapi juga semangat juang yang hebat, ilmu agama, dan ilmu bela diri atau kesaktian.
Sampailah pengembaraan mereka ke daerah Pemalang yang sudah dihuni banyak penduduk. Di tempat itulah mereka bermukim sementara. Setelah menetap beberapa tahun, mereka diterima menjadi tokoh masyarakat. Tentu saja keberhasilan itu tidak datang dengan sendirinya. Pastilah mereka telah berbuat kebaikan berkat pengalamannya sebagai bangsawan atau priayi Pajang. Misalnya, menularkan keahliannya di bidang pemerintahan, ekonomi, pertanian, dan kesenian. Tidak lama kemudian, Raden Sida Wini diangkat menjadi Bupati Pemalang.
Dengan persetujuan Raden Sida Wini, pengembaraan Ki Gede Sebayu berlanjut ke barat untuk mencari tokoh Ki Wanakusuma, yaitu salah seorang priayi keturunan Patih Kerajaan Demak yang namanya sudah terkenal. Mereka bertemu di Tetegal dan sejak itulah Ki Gede Sebayu menetapkan niatnya bermukim di daerah tersebut.
Berkat bimbingan Ki Wanakusuma yang bijaksana, lama-lama Ki Gede Sebayu berhasil menata masyarakat sehingga diakui juga sebagai sesepuh atau pemimpin. Desa Tetegal atau Tegal semakin ramai penduduknya. Ada yang bertani, berdagang, dan melaut atau nelayan.
Tidak lama kemudian, keramaian Tetegal terdengar juga oleh Sultan Agung di Mataram (sekarang Yogyakarta). Sultan Agung dikenal dalam sejarah sebagai raja besar pendiri dinasti Mataram pada awal abad ke-17. Dia memerintah Mataram tahun 1613-1645. Terkenal cerdas, adil, bijaksana, dan sakti. Nyatanya dia berhasil menguasai Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian Kalimantan. Dia pun membuktikan semangatnya yang besar untuk mengusir orang-orang Belanda yang mulai bermukim di Jayakarta (sekarang Jakarta dan pernah bernama Batavia).

0 komentar:

Posting Komentar